Krisis ekonomi yang tengah berlangsung di Indonesia merupakan suatu fenomena yang menarik, dimana krisis yang dipicu oleh terdepresiasinya nilai rupiah dengan tajam pada akhir Agustus 1997 ini berdampak kepada terciptanya krisis ekonomi atau lebih tepatnya lagi krisis multidimensi baik sosial maupun politik yang berkepanjangan. Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya bahwa perekonomian Asia Tenggara yang dinamis dan tumbuh dengan cepat dapat terseret kedalam stagflasi, dimana perekonomian menjadi stagnan karena sektor riil tidak dapat menjalankan proses produksi dengan baik yang juga diiringi tingkat inflasi yang tinggi . ... Hal ini dapat dilihat dari laporan-laporan dan prospektus mengenai perekonomian Indonesia dari berbagai institusi domestik maupun global yang pada umumnya melaporkan bahwa perekonomian Indonesia merupakan perekonomian yang dinamis dan tumbuh dengan cepat dan dengan resiko yang dapat ditangani. Pemerintah dinilai cukup kredibel dan market oriented dalam mengimplemntasikan kebijakan ekonomi makro, demikian pula dukungan dari institusi perekonomian global seperti IMF dan Bank Dunia memberikan gambaran bahwa Indonesia merupakan perekonomian dengan iklim investasi yang baik dan sekali lagi dengan resiko yang dapat ditangani. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan terjadinya sovereign risk ataupun force major ataupun resiko –resiko skala besar lainnya. ... Dan performa perekonomian Indonesia menunjukkan indikator-indikator ekonomi makro dan moneter yang baik dan tidak menunjukkan indikasi akan terjadinya krisis. ... Sehingga diperlukan suatu observasi yang lebih mendalam yang tidak hanya meninjau besaran-besaran fundamental makroekonomi dan sektor moneter saja.
Hal tersebut menjadi latar belakang pemikiran bagi tulisan ini yaitu untuk mengamati kemungkinan terjadinya krisis nilai tukar diperlukan perluasan observasi ke sektor-sektor yang terkait secara signifikan dengan pergerakan kurs dan tidak termasuk kedalam besaran fundamental. Dalam tulisan ini perluasan observasi dailakukan dengan memperluas observasi kepada beberapa indikator pada sektor riil, mengingat pembahasan kebijakan nilai tukar merupakan suatu topik yang harus meninjau cakupan permasalahan ekonomi yang luas yang tidak hanya mencakup sektor moneter saja. ... Karena keterkaitan sebab-akibat antara sektor riil dengan kurs tetap terjadi baik secara langsung seperti halnya keterkaitan antara ekspor impor dengan nilai tukar, maupun keterkaitan yang bersifat tidak langsung. Secara sederhana hal ini dapat dilihat pada hal kurs atau nilai tukar akan berhubungan dengan tingkat suku bunga, seperti yang dikemukakan dalam konsep interest parity atau paritas (kesetaraan) tingkat suku bunga, dimana pada konsep pendapatan nasional tingkat suku bunga ini akan berhubungan dengan sektor riil melalui investasi. Sehingga melalui mekanisme inilah fluktuasi-fluktuasi kurs secara tidak langsung akan dapat ditransmisikan ke sektor riil atau dengan kata lain kurs dapat mempengaruhi sektor riil melalui mekanisme transmisi.
Kita juga dapat memandang bagaimana sektor riil ini akan dipengaruhi kurs secara langsung melalui ekspor dan impor. Di dalam teori makro standar tentang konsep pendapatan nasional dikemukakan bahwa ekspor memiliki fungsi yang positif dengan kurs , yang hal ini berarti ketika nilai kurs mata uang suatu negara semakin besar (artinya melemah atau terdepresiasi) maka ekspor akan meningkat karena harga relatif barang-barang domestik yang diekspor menjadi lebih murah dibandingkan dengan harga relatif barang-barang dari negara lain, atau dengan kata lain akan meningkatkan daya saing. Dan hal sebaliknya terjadi yaitu mengecilnya kurs atau terjadinya apresiasi akan mengurangi daya saing barang-barang ekspor karena harga barang domestik yang diekspor akan memiliki harga relatif yang lebih mahal di pasar internasional jika dibandingkan harga barang-barang dari negara lain. ...
Mengingat besarnya dampak dari fluktuasi kurs terhadap perekonomian ini maka jelas diperlukan suatu manajemen kurs yang baik sehingga kurs menjadi stabil dan fluktuasinya dapat diprediksi, sehingga pasar maupun otoritas moneter mampu melakukan langkah-langkah antisipatif meredam dampak negatif berfluktuasinya kurs terhadap perekonomian sehingga perekonomian dapat tetap berjalan dengan stabil. Sehingga jika terjadi kegagalan pada manajemen kurs maka hal tersebut merupakan gangguan terhadap kestabilan perekonomian yang akan berdampak luas kepada proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Krisis Sektor Keuangan di Indonesia.
Krisis sektor keuangan (sektor finansial) di Indonesia yang dimulai pada bulan Agustus 1997 lalu dimana krisis ini ditandai dengan terjadinya krisis nilai tukar, merupakan suatu fenomena yang dapat dijadikan contoh yang konkrit bagaimana krisis pada sektor finansial dapat menjadi pemicu krisis ekonomi secara keseluruhan. ...
Krisis sektor keuangan dapat diilustrasikan sebagai suatu kejadian dimana sistem keuangan menjadi tidak likuid atau insolvent. Suatu keruntuhan yang biasanya terjadi setelah terjadinya euphoria pasar, dan untuk beberapa kasus krisis sektor keuangan dimulai dengan krisis nilai tukar.
Sebagai contoh terjadinya krisis nilai tukar ialah gugurnya sistem Bretton Woods pada awal tahun 70-an dimana pada peristiwa itu banyak negara harus kehilangan banyak cadangan devisa untuk menghalalu krisis nilai tukar tersebut. Kemudian pada September 1992 diisukan bahwa pemerintah Inggris kehilangan lebih dari 7 miliar dollar Amerika hanya dalam beberapa jam saja ketika berusaha menghalau serangan spekulasi yang berusaha mentidakstabilkan kurs poundsterling terhadap mark Jerman. Contoh yang lain adalah kasus Meksiko pada tahun 1994, dimana pemerintah Meksiko kehilangan sekitar 50 miliar dollar Amerika untuk menghalau krisis nilai tukar dan masih saja tetap gagal.
Krisis di negara-negara Asia Timur ini pada dasarnya merupakan krisis kembar atau twin financial crises, dimana krisis melanda nilai tukar mata uang dan juga sistem perbankan. ... Dengan minimnya informasi mengenai debitur tersebut memungkinkan terjadinya kepanikan di kalangan kreditur dan kemudian para kreditur menarik pinjamannya kembali.
Pada dasarnya proses terjadinya krisis sektor keuangan ini merupakan suatu permasalahan yang kompleks dimana sulit diidentifikasi secara pasti dan detail apa faktor penyebabnya, apa yang menjadi pangkal permasalahannya ataupun bagaimana urutan kejadiannya (sequence). Namun secara sederhana terjadinya krisis sektor keuangan di Indonesia ini dapat dibagi menjadi lima tahapan yang dapat diuraikan sebagai berikut.
Tahap pertama dari terjadinya krisis nilai tukar ini terjadinya depresiasi rupiah dapat saja merupakan akibat dari berkurangnya aliran modal dari manajer keuangan internasional yang dialirkan ke Indonesia dimana hal ini didorong oleh tidak dilakukannya hedging terhadap pinjaman luar negeri jangka pendek oleh pihak peminjam swasta domestik yang hal ini dilandasi oleh alasan minimisasi biaya.
Sampai pada bulan Juli 1997 pihak peminjam swasta domestik menilai bahwa akan lebih menguntungkan bagi mereka untuk meminjam pinjaman luar negeri yang tidak dihedge karena cost of fund-nya lebih kecil jika dibandingkan dengan pinjaman off-shore yang dihedge apalagi jika dibandingkan dengan pinjaman on-shore (pinjaman dari dana domestik yang dinominasikan dalam rupiah). ... Jika pihak peminjam swasta domestik melakukan pinjaman on-shore maka beban bunga (cost of fund) pinjaman adalah sekitar 18% - 19% per tahun (nilai ini ialah besarnya tingkat suku bunga modal kerja), jika melakukan pinjaman off – shore dan dihedge maka cost of fund yang ditanggung adalah sekitar 14% - 19% per tahun dan jika meminjam off-shore tanpa dihedge cost of fund yang ditanggung hanya sekitar 9% per tahun. ...
Hal ini menjadi permasalahan ketika nilai rupiah terdepresiasi lebih cepat dari pada nilai trend-nya dan band intervensi otoritas moneter mulai diperlebar maka kemungkinan akan terjadinya foreign exchange losses karena tidak dihedge-nya pinjaman menjadi semakin besar. Hal ini mengundang peminjam swasta domestik untuk melakukan hedging terhadap pinjamannya , tetapi reaksi ini ternyata mestimulasi semakin terdepresiasinya rupiah. Dan ketika band intervensi akhirnya dilepas sama sekali oleh Bank Indonesia maka yang terjadi ialah terjadi akselerasi depresiasi nilai rupiah karena semakin banyaknya peminjam swasta domestik yang baru mulai melakukan hedging sehingga meningkatkan permintaan akan mata uang asing (dalam hal ini US dollar) dimana kondisi ini juga diperparah dengan berkurangnya minat kreditur asing memberi pinjaman terhadap swasta domestik sehingga supply dana menjadi relatif langka. ...
Tahap kedua yang terjadi pada proses terjadinya krisis di Indonesia ialah hilangnya kepercayaan terhadap perbankan nasional menyusul tindakan likuidasi terhadap 16 bank yang dilakukan sebagai paket program IMF dalam usaha pemulihan krisis. Sedianya program likuidasi ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kredibilitas pemerintah dengan cara membangun citra bahwa pemerintah mampu melakukan tindakan yang tegas dan konkrit terhadap bank-bank yang bermasalah. Tetapi yang terjadi justru hilangnya kepercayaan terhadap perbankan nasional sehingga terjadi rush, yaitu penarikan besar-besaran dana-dana yang ada didalam sistem perbankan sehingga hal tersebut mendorong dilakukannya penyelamatan sistem perbankan oleh otoritas moneter dengan cara melakuakn injeksi kredit. Maka pada tahap kedua ini krisis yang pada awalnya menimpa peminjam swasta domestik yaitu perusahaan-perusahaan swasta nasional kini ditambah dengan terjadinya krisis pada sektor perbankan. Dengan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional hal ini mengundang bank-bank asing untuk menghentikan pinjaman inter-bank dan kredit niaga (trade credit). Selain itu seperti telah diduga dampak dari injeksi kredit oleh otoritas moneter akan menyebabkan terjadinya inflasi dan semakin terdepresiasinya nilai rupiah. Pada tahap kedua proses terjadinya krisis ini kurs rupiah terhadap US dollar ada pada kisaran Rp. ...
Tahap ketiga terjadinya krisis ini berkaitan dengan kondisi kesehatan mantan presiden Indonesia, H. ... Hal ini semakin memperburuk situasi dimana sentimen negatif pasar terpicu sehingga nilai rupiah merosot sampai ke angka Rp. ... 600/USD bahkan sempat menyentuh nilai terendah yaitu RP. ...
Tahap kelima ialah masa-masa demonstrasi mahasiswa, dimana pada tahap ini krisis nilai tukar yang meluas menjadi krisis ekonomi telah menjelma menjadi krisis multidimensi yang termasuk didalamnya adalah krisis sosial dan politik. Ketidakpastian secara politik dan kerusuhan sosial telah mendorong rupiah untuk berada dikisaran Rp. ...
Latar Belakang Terjadinya Krisis Sektor Keuangan.
Di bagian sebelumnya telah diilustrasikan bagaimana proses krisis yang terjadi di Indonesia, maka pada bagian ini akan dikemukakan latar belakang terjadinya krisis ini sehingga dari sini diharapkan dapat dibuat suatu gambaran yang lebih komprehensif tentang krisis ini.
Latar belakang terjadinya krisis dapat dibagi menjadi dua garis besar yaitu permasalahan yang ada di dalam perekonomian domestik atau hal-hal internal, dan permasalahan eksternal.
Permasalahan yang terjadi pada perekonomian domestik yang dapat dianggap memiliki keterkaitan dengan terjadinya krisis ini dapat dibagi menjadi dua yaitu pada pasar uang atau sektor finansial dan pada pasar barang atau sektor riil.
Permasalahan pada sektor riil berupa struktur pasar yang bersifat monopolis dan oligopolis untuk sektor riil yang tradable atau sektor-sektor yang produktif. Dimana diduga hal ini menyebabkan aliran dana pinjaman dari luar (off-shore loan) hanya dapat dialokasikan ke sektor-sektor yang non-tradable seperti misalnya properti, transportasi dan lainnya.
Permasalahan sektor riil lainnya misalnya ialah terjadinya perlambatan pada nilai ekspor sebagai menurunnya daya saing relatif produk-produk domestik dipasar internasional. Produk-produk domestik harus bersaing dengan pemain-pemain baru yang juga mengandalkan rendahnya biaya produksi atau dengan kata lain memiliki keunggulan komparatif pada sektor yang sama. Misalnya saja masuknya produk-produk buatan Cina dan India, dimana secara umum kedua negara tersebut sama seperti halnya Indonesia mengandalkan labor intensive untuk meraih market share di pasar internasional.
Permasalahan pada perekonomian domestik yang melatarbelakangi terjadinya krisis ini juga terjadi pada sektor keuangan. ...
Faktor faktor eksternal fundamental yang melatarbelakangi krisis ada dua hal, yaitu digunakannya kebijakan kurs mengambang (floating rate) secara luas dan yang kedua terjadinya integrasi sektor keuangan menjadi sebuah pasar keuangan global sehingga tercipta mobilitas modal yang tinggi (high capital mobility). ...
Sedangkan mobilitas kapital yang tinggi merupakan suatu konsekuensi dari semakin terintegrasinya sektor keuangan dunia menjadi suatu sistem keuangan global. Di satu pihak hal ini merupakan sebuah keuantungan karena dengan demikian cost of fund dapat ditekan, tetapi ditinjau di pihak lain hal ini dapat merugikan karena akan terlalu mudah kapital tersebut keluar masuk kedalam sebuah perekonomian. ... Secara teoritis, dengan diberlakukannya kurs mengambang, maka nilai tukar seharusnya stabil (stabil tidak berarti konstan dan tidak ada fluktuasi, tetapi lebih berarti fluktuasi kurs dapat dijelaskan dan diperkirakan), seperti halnya variabel fundamental makroekonomi. Tetapi pada kenyataanya yang terjadi ialah pergerakan nilai tukar tidak dapat diperkirakan. ... Namun pada kenyataannya tidak selalu terjadi demikian, hal yang paling menonjol adalah bagaimana politik dagang Amerika Serikat terhadap Jepang menyusul defisit perdagangannya dengan Jepang. ... Pada kenyatanya banyak kasus menunjukkan terjadinya efek domino (contagion effect) seperti halnya yang melatarbelakangi krisis nilai tukar di Asi Tenggara yang dimulai dari depresiasi nilai Baht Thailand. ... Bank Sentral akan sedikit saja memegang cadangan dalam bentuk mata uang asing karena secara teoritis Bank Sentral tidak terlalu memerlukan jenis cadangan tersebut (di dalam floating rate diasumsikan tidak ada intervensi pemerintah). ... Hal ini mungkin disebabkan oleh semakin tingginya mobilitas kapital, dimana keputusan investor dalam memegang aset sangat sensitif terhadap perubahan profitabilitas. ... Harus digalakkannya pasar forward dan instrumen hedging lainnya yang dapat digunakan oleh eksportir dan importir untuk menanggulangi resiko perubahan nilai tukar. Tetapi yang terjadi ialah perdagangan mata uang jauh lebih besar daripada nilai perdagangan barang dan jasa sehingga tampaknya tidak ada hubungan antara perdagangan barang dan jasa dengan transaksi di pasar forward seperti halnya yang dikemukakan dalam teori. ...
Paparan diatas pada dasarnya memuat beberapa hal penting, hal yang pertama adalah sangat penting untuk menjaga agar kurs tetap stabil mengingat besarnya dampak yang dapat ditimbulkan dari kurs yang tidak stabil atau jika terjadi krisis pada nilai tukar. Kemudian yang kedua ialah untuk mampu mengimplementasikan kebijakan kurs yang efektif diperlukan pemahaman-pemahaman yang lebih mnedalam mengenai variabel-variabel apa saja yang akan mempengaruhi pergerakan kurs secara signifikan. Dimana perlu ditekankan bahwa permasalahan manajemen kurs tidak semata-mata masalah gmenempatkan berapa kurs yang tepath (get the exchange rates right) bagi perekonomian, tetapi harus juga merupakan kebijakan multi manajemen yang bertujuan mengurangi kerentanan pasar domestik terhadap tekanan eksternal dan mengurangi tekanan eksternal itu sendiri melalui kordinasi kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan hal tersebut sehingga manajemen kurs dapat terlaksana dengan lebih baik.
Berdasarkan hal diatas dalam tulisan ini akan dikaji bagaimana kebijakan kurs sebaiknya diterapkan, dimana pada tulisan ini akan ditekankan perlunya kebijakan kurs yang mempertimbangkan cakupan yang lebih luas atau manajemen multi sektor. Dalam pengertian bahwa kebijakan kurs yang efektif baru dapat terlaksana jika manajemen kebijakan pada sektor lain juga berjalan dengan baik, seperti misalnya manajemen kebijakan pinjaman luar negeri baik pinjaman sektor publik maupun sektor swasta, manajemen kebijakan pada sektor perbankan dan juga diperlukan manajemen kebijakan sektor riil yang baik .
Secara lebih spesifik tujuan penulisan ini akan membahas bagaimana manajemen struktur pembiayaan sektor swasta yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kestabilan kurs. Sehingga jika terjadi kelalaian dalam manajemen pembiayaan perusahaan oleh sektor swasta dalam ukuran yang cukup besar dalam perekonomian dan hal tersebut tidak diantisipasi oleh pemerintah sebagai lembaga supervisi maka akan berdampak kepada terciptanya perekonomian yang self-fulfilling speculative attacks.
Secara sederhana hal tersebut dapat digambarkan dengan jika terjadi pinjaman luar negeri sektor swasta yang berlebihan dalam perekonomian. Maka pinjaman luar negeri ini akan menciptakan permintaan akan mata uang asing yang lebih bersifat ketergantungan, sehingga nilai mata uang domestik cenderung mengalami depresiasi. ... Skenario terjadinya krisis nilai tukar Rp. Sehubungan dengan pola pinjaman luar negeri sektor swasta.
Secara garis besar skenario terciptanya krisis nilai tukar pada tulisan ini dapat dilihat pada gambar I. ...
Dengan demikian tulisan ini akan menguraikan kerangka logis bagaimana perilaku pendanaan struktur swasta dapat mengakibatkan pergerakan mendadak (jump) pada nilai tukar. Hal ini dapat terjadi kerena dengan perilaku pinjaman luar negeri yang tidak baik oleh sektor swasta, maka jika terjadi serangan spekulasi (dimana serangan spekulasi ini sendiri secara tidak langsung diundang oleh kondisi perekonomian domestik) pada perekonomian maka hal tersebut akan menyebabkan ekspektasi depresiasi yang berlebihan (panik). Dimana mudah paniknya sektor swasta terhadap gejolak kurs ini merupakan bentuk dari rentannya perekonomian domestik terhadap fluktuasi ekonomi global dan merupakan konsekuensi dari liberalisasi sektor keuangan yang tidak disertai persiapan institusional dan infrastruktur lunak yang memedai serta konsekuensi dari distorsi pada perekonomian. ...
Untuk mengkaji topik tulisan maka pembahasan akan ditekankan kepada bagaimana dampak dari perilaku pelaku ekonomi terutama sektor swasta, kemudian juga di perbankan dan pemerintah.
Pembahasan akan mengacu kepada beberapa model yang dapat mengakomodasi pengilustrasian perilaku masing-masing pelaku ekonomi terhadap kerentanan perekonomian. Dimana model yang pertama mengilustrasikan perilaku sektor swasta terhadap perekonomian, yaitu mengilustrasikan bagaimana dampak struktur pendanaan sektor swasta terhadap perekonomian dengan mempengaruhi tingkat keyakinan investor (state of confidence) yang kemudian variabel tersebut mempengaruhi perekonomian melalui tingkat suku bunga. ...
= selisih antara tingkat keuntungan sektor swasta dengan ekspektasi tingkat suku bunga = r + - (i - e). ...
sf = konstanta laba ditahan sektor swasta.
rg = tingkat return sektor swasta bruto (gross rate of return).
r = tingkat return sektor swasta netto. ...
Secara garis besar model ini mengungkapkan bahwa jika struktur pembiayaan sektor swasta memiliki yang besar dan variabel lain ceteris paribus, maka pertumbuhan investasi dalam perekonomian akan menurun karena menurunnya state of confidence investor seiiring dengan meningkatnya resiko yang timbul dari struktur pembiayaan sektor swasta yang bergantung kepada pinjaman.
Model ini digunakan untuk dapat merekonstruksi timbulnya kerentanan pada perekonomian domestik yang berasal dari struktur pembiayaan sektor swasta yang bergantung kepada hutang.
Model berikutnya yang dijadikan acuan adalah model yang mengilustrasikan bagaimana pengaruh dari pergerakan pada pasar aset akan mempengaruhi nilai tukar. Model ini merupakan sintesa pendekatan moneter terhadap penentuan kurs dan pendekatan keseimbangan portofolio yang dikemukakan oleh Jeffrey A. ...
s = nilai log spot nilai tukar (exchange rate). ...
= elastisitas permintaan uang terhadap perubahan pendapatan.
semielastisitas permintaan uang terhadap perubahan tingkat suku bunga. ...
Model berikutnya yang digunakan sebagai acuan adalah model logika terjadinya krisis nilai tukar yang dikemukakan oleh Maurice Obstfeld. ...
Bab ketiga akan memaparkan kondisi perekonomian Indonesia dengan penekanan kepada perilaku pelaku-pelaku ekonomi. Pada bab ini akan dikemukakan beberapa studi dan data-data yang dapat menggambarkan bagimana perkembangan perilaku pelaku ekonomi.
Bab keempat merupakan konstruksi model krisis nilai tukar yang merupakan modifikasi dari model logika terjadinya krisis. Model ini diarahkan sesuai dengan tujuan penulisan, yaitu memperoleh gambaran bagaiamana perilaku pendananaan sektor swasta dapat mengakibatkan terjadinya jump pada nilai tukar jika dikombinasikan dengan serangan spekulasi. ...
Bab ke lima adalah penutup, yang berisi catatan dan diskusi mengenai kebijakan nilai tukar .
Adapun judul skripsi ini adalah :
Pengaruh Liberalisasi Sektor Keuangan Terhadap Mekanisme Penentuan Nilai Tukar Rupiah : Studi Mengenai Risk Premium di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
Seperti yang telah dikemukakan bahwa sasaran dari tulisan ini ialah mengkaji bagaimana suatu perekonomian yang telah mengalami liberalisasi pada sektor keuangannya memiliki kerentanan terhadap gejolak eksternal (external shock). Dimana kerentanan terhadap gejolak eksternal ini merupakan suatu karakteristik pada perekonomian yang dapat mendorong perekonomian dengan sendirinya mengundang serangan spekulasi (self-fulfilling speculative attack crises). ...
Kerentanan pada perekonomian ini dapat didorong oleh banyak hal yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam berdasarkan subyek pelaku ekonomi, yaitu sebagai akibat dari kebijakan pemerintah, sebagai akibat dari perilaku sektor swasta dan yang ketiga sebagai akibat dari perilaku sistem perbankan. Pada bagian ini akan dikemukakan landasan teori untuk dapat membangun kerangka analisa yang dapat menjelaskan bagaimana interaksi dari ketiga pelaku ekonomi tersebut dapat menyebabkan kondisi perekonomian domestik yang rentan terhadap gejolak eksternal.
Tulisan pada bab ini terbagi atas beberapa bagian yaitu yang pertama teori yang mengemukakan bagaimana siklus bisnis akan mempengaruhi perilaku permintaan terhadap modal dan dengan demikian mempengaruhi perilaku investor dalam mengalokasikan dana. ... Landasan teori yang kedua akan menggambarkan bagaimana interaksi di pasar aset dapat mempengaruhi pergerakan kurs dengan menyinggung currency risk premium, dengan mengacu kepada model yang dikemukakan oleh Jeffrey A. ... Dan yang ketiga membahas mengenai kerangka terjadinya bagaimana krisis nilai tukar dapat terjadi dimana pada bagian ini model berpikir diambil dari tulisan Maurice Obstfeld. ... Dampak Siklus Bisnis Terhadap Pembentukan Perilaku Investor.
Pada dasarnya pendekatan teori ini menitikberatkan kepada bagaimana perubahan permintaan terhadap stok modal akan mempengaruhi aktivitas perekonomian. Dan didalam menyusun kerangka berpikir bagaimana perubahan permintaan terhadap stok modal akan mempengaruhi aktivitas perekonomian, maka pembahasan akan mencakup aspek bagaimana perilaku investasi terbentuk pada jangka menengah dan jangka panjang. ...
Dalam jangka menengah pola investasi merupakan respon terhadap perubahan-perubahan pada permintaan barang. ... Sehingga secara sederhana investasi dalam jangka menengah berhubungan positif dengan rasio tingkat output terhadap modal (yang memiliki notasi x). ... 1)
I / K adalah tingkat pertumbuhan modal, dan tingkat perubahan modal ini dipengaruhi oleh gabungan antara variabel rasio output-modal x dalam jangka menengah dan oleh variabel tingkat keyakinan investor terhadap perkembangan perkonomian dalam jangka panjang . ... Aspek resiko ini tidak dapat tergambar hanya dengan mempertimbangkan berapa return dari melakukan investasi dengan membeli barang-barang modal lalu dibandingkan dengan berapa return seandainya dana tersebut disimpan di bank. ...
Adapun mekanisme pembentukan perilaku variabel tingkat keyakinan investor dapat terbagi menjadi dua menurut jenis investor, yaitu perilaku investor self-reference dan perilaku investor yang hetero-reference. Perilaku investor self-reference yang dimaksud ialah bagaimana investor bertindak sebagai respon terhadap perilaku pelaku pasar yang lain seperti misalnya bagaimana merespon perilaku perusahaan-perusahaan, atau manajer-manajer perusahaan. ...
Investor dengan perilaku self reference akan menitikberatkan perilakunya untuk merespon psikologi pelaku pasar, yaitu bagaimana investor merespon ekspektasi pelaku pasar terhadap apa yang akan terjadi pada perekonomian. ... Misalnya saja jika pelaku pasar merasa pesimis terhadap perkembangan pasar seperti halnya pada perekonomian Indonesia saat ini, maka investor akan mengantisipasi pesimisme tersebut dengan mengurangi tingkat investasinya. ... Hal ini memungkinkan terjadinya suatu perubahan perilaku investor yang mendadak yang berdasarkan sentimen pasar , dan perubahan perilaku tersebut dapat diikuti oleh investor lain bahkan pelaku pasar yang akibatnya dapat terjadi mekanisme akselerasi (accelerating mechanism) terhadap peubahan perilaku tersebut.
Lain halnya dengan investor hetero reference yang mendasarkan perilakunya kepada pertimbangan-pertimbangan yang lebih objektif, yaitu dengan melakukan observasi terhadap pasar. ... Jika pelaku pasar optimis terhadap perkembangan perekonomian namun investor hetero-reference melihat bahwa optimisme tersebut terlampau berlebihan jika dibandingkan dengan data-data yang mereka miliki maka investor tersebut tidak akan mengikuti trend yang ada, tetapi akan menerapkan langkah-langkah yang antisipatif terhadap perubahan yang mungkin akan terjadi.
To link to this page, copy the following code to your site:
All Papers Are For Research And Reference Purposes Only!
You may not turn these papers in as your own! You must cite our web site as your source!